Riset geologi terbaru mengungkap fakta mengejutkan mengenai Gulf of Suez, wilayah patahan yang memisahkan Benua Afrika dan Asia. Selama ini, para ilmuwan percaya bahwa proses rifting (perekahan kerak bumi) di kawasan tersebut telah berhenti sekitar 5 juta tahun lalu. Namun studi modern menunjukkan hal sebaliknya: Gulf of Suez masih terus merekah hingga hari ini.
Temuan ini mengguncang pemahaman lama mengenai dinamika tektonik di wilayah Africa–Arabia dan dapat mengubah cara ilmuwan memprediksi aktivitas geologi masa depan di kawasan itu.
1. Rifting yang Tidak Pernah Benar-Benar Berhenti
Dalam laporan terbaru, para peneliti menemukan bukti bahwa proses pemisahan kerak bumi yang membentuk Gulf of Suez ternyata masih aktif, meskipun sangat lambat.
Awalnya, ilmuwan meyakini bahwa rift tersebut adalah rifting “fosil”—rekahan kuno yang sudah tidak berkembang. Namun data geologi terbaru mematahkan anggapan tersebut.
Indikasi aktivitas rifting yang masih berlangsung:
- Pergerakan kerak yang sangat kecil namun terukur
- Pola deformasi yang tidak sesuai dengan rift pasif
- Indikasi adanya gaya tektonik yang masih bekerja di wilayah tersebut
Kesimpulannya, Gulf of Suez tidak “mati”—justru masih aktif secara tektonik.
2. Pentingnya Temuan Ini bagi Ilmu Tektonik Lempeng
Rifting merupakan proses geologi dasar yang memisahkan benua dan membentuk samudra baru. Penemuan bahwa Gulf of Suez masih aktif menunjukkan bahwa:
- Rift yang dianggap stabil dapat kembali aktif
- Evolusi tektonik wilayah Africa–Arabia lebih kompleks
- Model geodinamik lama perlu diperbarui
- Zona yang dianggap “aman” mungkin tetap menyimpan risiko geologi
Studi ini juga memberikan gambaran baru tentang bagaimana benua dapat terus mengalami perubahan struktural jauh setelah fase rifting utamanya selesai.
3. Dampak Potensial bagi Kawasan Sekitar
Rifting aktif dapat menyebabkan:
- Aktivitas seismik ringan hingga sedang
- Perubahan struktur geologi lokal
- Potensi pembentukan depresi baru
- Risiko bagi infrastruktur tertentu
Meskipun tidak langsung berdampak luas bagi masyarakat modern, pemahaman baru ini penting untuk kajian risiko jangka panjang, terutama di negara-negara sekitar Laut Merah dan kawasan Timur Tengah.
4. Implikasi Global: Memahami “Rift Dormant” yang Ternyata Aktif
Temuan ini memunculkan pertanyaan besar: Berapa banyak rift di dunia yang dianggap “pasif” namun sebenarnya masih hidup?
Studi Gulf of Suez menjadi contoh bahwa geologi bumi tidak pernah selesai—kerak bumi terus bergerak, bahkan di tempat yang dianggap stabil.
Kesimpulan
Studi terbaru membuktikan bahwa Gulf of Suez masih aktif merekah, bertentangan dengan keyakinan ilmiah selama puluhan tahun bahwa rifting sudah berhenti 5 juta tahun lalu.
Temuan ini membuka wawasan baru tentang dinamika tektonik dan menekankan bahwa bumi jauh lebih aktif dan kompleks dari dugaan sebelumnya.