Banjir masih menjadi bencana yang sering terjadi di berbagai wilayah Sumatera. Intensitas hujan yang tinggi memang menjadi salah satu faktor, namun banyak pihak menilai bahwa sekitar 80 persen banjir di Sumatera dipicu oleh kerusakan lingkungan. Kondisi ini menunjukkan bahwa bencana banjir tidak semata-mata disebabkan oleh faktor alam, tetapi juga oleh aktivitas manusia.
Kerusakan Lingkungan sebagai Pemicu Utama
Kerusakan lingkungan di Sumatera terjadi dalam berbagai bentuk, mulai dari deforestasi, alih fungsi lahan, hingga eksploitasi sumber daya alam yang tidak terkendali. Hutan yang seharusnya berfungsi sebagai daerah resapan air semakin berkurang, sehingga air hujan langsung mengalir ke permukaan dan menyebabkan banjir.
Selain itu, pembukaan lahan untuk perkebunan dan permukiman sering kali mengabaikan tata ruang dan keseimbangan ekosistem. Akibatnya, daya dukung lingkungan menurun drastis.
Peran Deforestasi dan Alih Fungsi Lahan
Hutan memiliki peran penting dalam menyerap air dan menjaga kestabilan tanah. Namun, di banyak wilayah Sumatera, hutan alami telah berubah menjadi kawasan perkebunan, pertambangan, atau pemukiman.
Alih fungsi lahan ini menyebabkan:
- Berkurangnya daerah resapan air
- Meningkatnya limpasan air permukaan
- Pendangkalan sungai akibat sedimentasi
Kondisi tersebut membuat sungai tidak mampu menampung debit air saat hujan deras, sehingga banjir pun sulit dihindari.
Kerusakan Daerah Aliran Sungai (DAS)
Daerah Aliran Sungai (DAS) yang rusak juga menjadi faktor penting penyebab banjir. Aktivitas penebangan liar, pertambangan, dan pembangunan di sekitar sungai mengakibatkan erosi dan longsor di hulu.
Material tanah yang terbawa aliran air akan mengendap di dasar sungai, menyebabkan pendangkalan. Sungai yang dangkal kehilangan kapasitasnya untuk menyalurkan air, sehingga meluap ke wilayah pemukiman.
Dampak Banjir bagi Masyarakat Sumatera
Banjir yang terjadi berulang kali menimbulkan berbagai dampak, antara lain:
- Kerusakan rumah dan infrastruktur
- Gangguan aktivitas ekonomi dan pendidikan
- Risiko kesehatan akibat lingkungan yang tidak higienis
Jika kerusakan lingkungan terus dibiarkan, dampak banjir diperkirakan akan semakin luas dan merugikan masyarakat.
Upaya Mengurangi Risiko Banjir
Mengurangi risiko banjir di Sumatera membutuhkan pendekatan jangka panjang yang berfokus pada pemulihan lingkungan. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
- Rehabilitasi hutan dan lahan kritis
- Penegakan hukum terhadap perusakan lingkungan
- Pengelolaan DAS secara terpadu
- Perencanaan tata ruang yang berkelanjutan
Keterlibatan pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha sangat diperlukan agar upaya ini dapat berjalan efektif.
Kesimpulan
Banjir di Sumatera tidak hanya disebabkan oleh faktor alam, tetapi sebagian besar dipicu oleh kerusakan lingkungan akibat aktivitas manusia. Dengan persentase pemicu yang mencapai 80 persen, perbaikan lingkungan menjadi kunci utama dalam upaya pencegahan banjir. Tanpa langkah nyata dan berkelanjutan, bencana banjir akan terus berulang dan memberikan dampak besar bagi kehidupan masyarakat Sumatera.